Selasa, 14 April 2015

BERLINDUNG KEPADA ALLOH SWT

Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhoan Alloh swt ..
Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Alloh swt, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ..

Tanpa bimbingan dari Alloh swt, niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya ..
Adalah Rosululloh saw berlindung kepada Alloh swt dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti ..
Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam do’a beliau saw :
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
1. ilmu yang tidak bermanfaat
2. hati yang tidak khusyu’
3. Jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan
4. Dari do’a yang tidak dikabulkan.”
(HR . Muslim dari Zaid bin Arqom ra).
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya.
Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Robbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Nabi Muhammad saw bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Alloh swt, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud).
2. Hati yang Tidak Khusyu’
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Alloh swt. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya, sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Alloh swt darinya.
Alloh swt berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alloh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22).
Kekhusyu’an hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Alloh swt dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyu’ hatinya karena mengetahui bahwa Alloh swt dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Alloh swt melihatnya dalam penentangan terhadap aturan-Nya.
Ada juga yang khusyu’ karena memandang dahsyatnya hukuman Alloh swt kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyu’ karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Alloh swt dan besarnya anugerah dari-Nya yang tidak bisa dihitung.
Alloh swt telah memuji orang-orang yang khusyu’ dan mempersiapkan sorga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyu’, Alloh swt menyatakan:
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Seorang yang khusyu’ saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Kholiq. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyu’ dalam sholat menjadi ruh sholat tersebut, dan sholat seorang hamba dinilai dengannya.
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah-ruah dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup.
Rosululloh saw telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih).
Sikap menerima pemberian Alloh swt dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Muhammad saw :
فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rizki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Alloh.” (HR . Muslim dari Abdulloh bin ‘Amr ra).
4. Do’a yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Alloh swt
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Alloh swt. Bagaimana tidak merugi, padahal Alloh swt telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Alloh swt berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir: 60).
Tidak dikabulkannya do’a, bukan berarti Alloh swt ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya do’a.

PUIIAN ALLOH KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Di dalam al-Qur`an terdapat begitu banyak ayat pujian dan sanjungan Alloh swt kepada Sayyidina Muhammad saw .. Ibarat seorang professor yang membuat suatu karya yang monumental dan memuji hasil karyanya sendiri ..

Pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad menjadi tolak ukur pujian kita kepada beliau saw, sementara yang paling popular pujian Alloh swt di dalam al-Qur`an:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau Muhammad memiliki budi pekerti yang sangat agung.” (Al-Qolam :4).
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah :128).
Perhatikanlah, Ketika menyifati Nabi Muhammad saw, Alloh swt berfirman:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Dan ketika menyifati Diri-Nya, Alloh juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Alloh `Maha Pengasih lagi Maha Penyayang` kepada manusia.” (Al-Boqoroh :143).
Diantara pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw yang termaktub dalam ayat diatas `pengasih dan penyayang`, Alloh swt tidak pernah menggunakan dua Nama-Nya tersebut untuk memuji seorang Nabi pun, kecuali untuk memuji Nabi Muhammad saw.
Diantara keistimewaan lain yang dimiliki Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh Para Nabi lain adalah; Alloh swt mengajarkan kepada kita untuk memanggil atau menyapa Nabi Muhammad saw dengan sopan dan adab yang tinggi. Alloh swt melarang kita memanggil namannya secara langsung seperti kita memanggil teman kita.
لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul (Nabi Muhammad) diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” (An-Nur: 63).
Alloh swt sendiri dalam al-Qur’an memanggil Nabi Muhammad saw tidak secara langsung melainkan dengan lemah lembut atau dengan jabatan beliau, “wahai Rosul … wahai Nabi … wahai orang yang berselimut … dll”
Bahkan karena sangat memuliakan kekasih Nya, Alloh bersumpah dengan umur Nabi Muhammad saw :
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Demi Umurmu (wahai Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (Al-Hijr :72).
Para ahli tafsir sepakat, dalam ayat ini Alloh swt bersumpah dengan umur (masa hidup) Nabi Muhammad saw.
Tidak ada satu makhluk pun yang dapat merendahkan derajat Nabi Muhammad saw disisi Alloh swt :
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namanu.“ (Al-Insyiroh :4).
Dalam tafsir al-Qur’an disebutkan : Maksudnya Alloh swt meeninggikan atau memuliakan sebutan nama Nabi Muhammad saw, di langit di kalangan para malaikat, di bumi di kalangan kaum mukminin dan di akhirat dengan memberinya maqom (kedudukan) al-Mahmud (tempat terpuji) dan berbagai kemuliaan lain. Wallohu a’lam…
“Allohu Robbi … melalui Sayyidina Muhammad cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian anugerah karunia -Mu yang terus menerus tak pernah putus, kumpulkanlah kami dengan Sayyidina Muhammad dan kekasih pilihan-Mu di setiap zaman.
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ
Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad … dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.”
NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT
ALLOH Yang Maha Tinggi mengistimewakan ummat islam dengan kesempurnaan sholawat kepada Nabi Muhammad
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Alloh swt Tuhan pemelihara alam semesta raya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Lalu Alloh swt mengajak para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Kemudian menyeru ummat yang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad
Setelah itu Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membalas sholawat mereka
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (at-Taubah : 103).
Nabi Muhammad pun berdo’a:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
“Tuhanku berilah ampunan dan berilah rohmat -kepada ummatku yang mukmin-,
dan hanya Engkau-lah pemberi rohmat yang paling baik.” (Al-Mu’minuun: 118).
Dan para malaikat serentak ikut mendo’akan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw:
رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنِ نِالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ج وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ج وَذَالِك هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Tuhan kami, maka masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang sholeh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan
dan orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min: 8-9).
Maka Alloh swt berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan
Kami pertemukan -kumpulkan- anak cucu mereka dengan mereka
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari masing-masing pahala amal mereka
-sebab- Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya -sewaktu mereka di dunia-.” (At-Thur: 21)
Ada dua pendapat ulama berkaitan ayat QS. At-Thur: 21 diatas :
Pertama, Bahwa Alloh swt memberikan keni’matan yang lebih kepada orang mukmin yang menduduki derajat yang tinggi di sorga, dimana Alloh kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya.
Sehingga Alloh swt mengangkat derajat penduduk sorga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi, agar lebih menyenangkan hati mereka, sedangkan Alloh swt tidak mengurangi sedikitpun kedudukan derajatnya.
Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk sorga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Alloh swt akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan orang tuanya, agar orang tua merasa lebih senang berkumpul dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat orang tua sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya, maka derajat orang tua akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dan berkumpul dengan anaknya cucunya.
Kedua, ayat diatas berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh, ia masih belum memiliki amal, sedangkan amalan memelihara dan merawat adalah milik ayah dan ibunnya. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Alloh mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.
Menurut hemat penulis kedua pendapat ini tidak berselisih jauh, sehingga boleh jadi ma’na ayat diatas mencakup kedua-duanya.
أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
MENGENAL SEJARAH AGAR TUMBUH CINTA
Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).
Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.
Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.
Alloh swt berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).
Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.
Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”
Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ
“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)
BERSAMA ORANG YANG DICINTAI
Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.
“Tali keimanan yang paling kokoh adalah; berloyal karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).
Dalam sabda beliau saw yang lain:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ
“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).
Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).
Ibnu Abbas rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”
Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.
Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:
وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).
Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas melanjutkan:
“Sungguh kau mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)
CINTA KEPADA NABI DAN PARA ULAMA
Alloh swt berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki (para Nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” – (QS.16:43).
Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi).
Meninggalnya seorang yang ‘alim akan menimbulkan bahaya bagi ummat, keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt, terlebih Rosululloh saw mengistilahkan para ulama’ dalam sebuah sabdanya:
مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”
Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLOH swt kecuali melalui keta’atan kepada Rosululloh saw.
Dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ROSULULLOH saw kecuali melalui keta’atan kepada ULAMA’, kepada hamba-hamba Alloh -yang ahli dalam perkara al-Qur’an, as-Sunnah.
Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya .?
Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Jika mampu jadilah kamu orang berilmu
jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu
jika tidak mampu jadilah pencinta ulama’
jika tidak mampu janganlah kamu membenci ulama’.”
Seorang ulama di era setelah sahabat, Ikrimah rohimahulloh mengatakan:
“Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena siapa yang menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rosululloh saw.
Sebab kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para Nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.”

Sabtu, 11 April 2015

BEDAKAN ANTARA KEMANUSIAAN, SYIAR DAN AKIDAH

Bedakan antara kemanusiaan, syi'ar dan akidah.
Agama Islam itu agama yang sangat menekankan berbuat baik dan kasih sayang sesama manusia tanpa membedakan agama, bahkan dengan hewan juga demikian. Akan tetapi dalam masalah akidah, keyakinan dan syi,ar. Islam tidak pernah membebaskan, apa lagi menganjurkan untuk bertoleransi.
Misalnya orang islam mengucapkan "selamat natal" yg jelas jelas itu syi'ar orang nasrani. Kalau saja saudara yg beragama lain kelaparan, sakit atau tertindas kita boleh dan dianjurkan untuk menolong, atau kita boleh menerima pertolongan dari mereka. karena itu masalah kemanusiaan. Tapi kalau menyangkut syiar agama, akidah dan keyakinan, maka Islam tidak pernah membenarkan bahkan melarang. Jadi harus dibedakan antara agama dan kemanusiaan.
Contah. Kita wajib menyayangi binatang seperti kucing misalnya.. ia lapar kita kasih makan. sakit di obatkan. Demi toleran sama kucing, apakah kita harus ikut bersuara MEONG ?. atau mengikuti perbuatan yang menjadi ciri khas kucing.??
Kita wajib memberi makan sapi, merawat, bahkan memandikan dan membuang kotorannya. Lalu demi toleran sama sapi. Apakah harus bersuara, berjalan seperti sapi ??. dan lainnya yg menjadi ciri khas sapi??? Bedakan bedakan !!!. Jangan anut grubyug rubuh gedang.!!

Kamis, 09 April 2015

MULTI NIAT MULTI PAHALA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّه 
“Dengang nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 
Aku Niat melaksanakan perintah menuju Ridho Alloh, dengan mengikuti setiap gerak dan diam Rosululloh.”

Suara hati merupakan sumber dan penyebab pertama timbulnya tujuan .. “Niat melaksanakan perintah menuju ridho Alloh dan mengikuti setiap gerak dan diam Rosululloh” adalah kecenderungan dan keinginan hati untuk berbuat baik.
Niat adalah ruhnya amal, seperti ruh bagi jasad, dan hujan bagi bumi. Barang siapa yang niat dan tujuannya untuk Alloh dan Rosul-Nya, maka ia memiliki niat yang sholeh. Dan barangsiapa yang niat dan tujuannya sesuai dengan kepentingan hawa nafsunya, maka ia memliki niat yang buruk.

Alloh swt berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ 
“Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata.” (QS. al-Baqoroh [2]: 208). 

Melalui ayat ini Alloh swt menyeru hamba-hamba-Nya yang Mukmin dengan memerintahkan kepada mereka agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dengan tidak memilah-milah atau memilih-milih di antara hukum-hukum-Nya.
Dengan kata lain, jangan sampai syari'at islam sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsunya. Sebaliknya, mereka wajib untuk menerima dan mengamalkan syari'at Islam ya'ni hukum-hukum Alloh dan Rosul-Nya secara keseluruhan.
Adapun terkait dengan “langkah-langkah setan” dalam ayat ini ma'nanya adalah jalan-jalan mereka yang selalu mengajak orang pada kebatilan serta selalu menghiasai keburukan dan kejelekan.

Dengan demikian, dalam ayat ini Alloh swt melarang kaum beriman untuk mengikuti langkah-langkah setan yang biasa menghiasi keburukan dan mempercantik kemungkaran.
Alloh swt memperingatkan hamba-hamba-Nya yang Mukmin akan akibat buruk dari mengikuti langkah-langkah setan, ya'ni kerusakan dan kehancuran di dunia dan di akherat.
Kehancuran itulah yang dikehendaki oleh setan yang meniscayakan permusuhannya terhadap manusia..

Rabu, 08 April 2015

SAKITNYA TUH DISINI

CINTA DALAM HATI
Simbol atau gambar hati yang sering dikaitkan dengan cinta dan kasih-sayang, mungkin pernah diantara kita bertanya-tanya:
“Mengapa hati selalu identik dengan cinta atau kasih sayang .?”
Penjelasan yang paling sederhana adalah:
“Karena kita selalu merasakan hati ini berdebar-debar jikalau bertemu dengan orang yang kita cintai.”
Tetapi rasa di hati itu ternyata tidak saja berkaitan dengan cinta atau kasih sayang semata. Ketika merasakan sedih atau pun kecewa, orang sering mengatakan:
“sakitnya tuh disini (di dalam hati), seperti disayat-sayat sembilu.”
Demikian pula jika sedang gembira, tangan kita secara reflex kita letakkan di dada (hati).
Singkat kata, hati memang selalu diidentikan dengan perasaan kita sebagai manusia, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an, cinta seorang hamba kepada Alloh swt:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka.
Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya.
Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”  (QS. Al-Anfal : 2).

INSYA ALLOH

Sebagian diantara kita sering melupakan peranan dn kekuasaan Alloh swt ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu.
Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Alloh" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu.
Ketika kita diundang, kita menjawab dgn kata "Insya Alloh" bukan dgn keyakinan bahwa Alloh swt yg punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut.
Kita rupanya berkelit dn berlindung dengan kata "Insya Alloh".
Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Alloh" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.
Semestinya agar tidak memberi harapan alangkah baiknya nyatakan saja dgn sejujurnya misalkan: Mohon maaf, aku tidak bisa memenuhi janji/undangan karena bla....bla.... sekali lagi mohon maaf yg sebesar-besarnya. dst....dst....
Namun nyatanya orang tetap mengatakan "Insya Alloh", sekali lagi .. walau untuk sesuatu yang tidak mungkin dapat ia lakukan. Karena dianggapnya bahwa pengertian atau ma'na kata "Insya Alloh" adalah hanya tergantung sikon dan tergantung perasaan hati belaka, bukan tergantung pada ketentuan Alloh.
Yang benar adalah,
Ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "Insya Alloh", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dn lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka di sinilah letak kekuasaan Alloh swt.
Di sinilah baru berlaku ma'na "Insya Alloh"

SYA'IR ABU NAWAS


ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺃﺑﻰ ﻧﻮﺍﺱ ﺣﻴﻦ ﻗﺮﺑﺖ ﺍﻟﻴﻪ ﺍﻟﻮﻓﺎﺓ 

ﺇﻟﻬﻰ ﻟﺴﺖ ﻟﻠﻔﺮﺩﻭﺱ ﺃﻫﻼ            ﻭﻻ ﺃﻗﻮﻯ ﻋﻠﻰ ﻧﺎﺭ اﻟﺠﺤﻴﻢ
ﻓﻬﺐ ﻟﻰ ﺗﻮﺑﺔ ﻭﺍﻏﻔﺮ ﺫﻧﻮﺑ              ﻓﺈﻧﻚ ﻏﺎﻓﺮ ﺍﻟﺬﻧﺐ اﻟﻌﻈﻴﻢ
ﺇﻟﻬﻰ ﻋﺒﺪﻙ ﺍﻟﻌﺎﺻﻰ ﺃﺗﺎﻙ             ﻣﻘﺮﺍ ﺑﺎﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﻗﺪ ﺩﻋــــﺎﻙ
ﻭﻋﻤﺮﻳﻰ ﻧﺎﻗﺺ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ             ﻭﺫﻧﺐ ﺯﺍﺋﺪ ﻛﻴﻒ ﺍﺣﺘﻤـﺎﻝ
ﺫﻧﻮﺑﻰ ﻣﺜﻞ ﺃﻋﺪﺍﺩ ﺍﻟﺮﻣــﺎﻝ           ﻓﻬﺐ ﻟﻰ ﺗﻮﺑﺔ ﻳﺎﺫﺍﻟـــــــﺠﻼﻝ
ﻓﺈﻥ ﺗﻐﻔﺮ ﻓﺄﻧﺖ ﻟﺬﺍﻙ ﺃﻫﻞ            ﻭﺇﻥ ﺗﻄﺮﺩ ﻓﻤﻦ ﻧﺮﺟﻮ ﺳﻮﺍﻙ

Cuplikan pengakuan Abu Nuwas ketika ajal menghampirinya:
Ya Alloh tiadaklah pantas aku menghuni surgaMU
Tetapi sungguh akupun takkan kuat menahan api nerakaMU.
Ya Alloh terimalah taubatku dan ampunilah segala dosaku.
Karena Engkaulah Yang Maha Pengampun.
Ya Alloh hambamu yang nista bersimpuh didepanMU
Hamba yangtelah berlumuran dosa namun tak malu memanggil nama-Mu.
Usiaku makin berkurang setiap hari
Namun dosaku makin bertambah hingga tak kuat lagi aku menanggungnya.
Dosaku laksana butir-butir pasir yang tak terhingga
Terimalah taubatku wahai Yang meiliki segala kemuliaan.
Jika Engkau mengampuni hambamu ini, maka memang itu kewenangan-Mu
Tetapi jika Engkau tak sudi, maka kepada siapa lagi aku mengharap selain Engkau

BERFIKIR SEBELUM BERTINDAK

ﻻ ﺗﻔﻌﻞ ﻋﺸﺮﺍً ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻋﺸﺮﺍً:
ﻻ ﺗﺘﺪﺧﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻴﻚ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺮﺿﻴﻚ،
ﻭﻻ ﺗﺘﻜﻠﻢ ﻭﺃﻧﺖ ﻣﻐﻀﺐ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪﻙ ﻏﻀﺒﺎً،
ﻭﻻ ﺗﻤﺪﺡ ﻣﻐﺮﻭﺭﺍً ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﺣﺘﻘﺎﺭﻙ،
ﻭﻻ ﺗﺸﻚ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻻ ﻳﻐﺎﺭ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪ
ﻓﻲ ﺁﻻﻣﻚ،
ﻭﻻ ﺗﺒﺪ ﺳﺨﻄﻚ ﻋﻠﻰ ﺟﺎﻫﻞ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪﻙ
ﻏﻴﻈﺎً،
ﻭﻻ ﺗﻨﺼﺢ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﻬﻴﻦ ﺑﻚ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﻌﺮ
ﺑﺎﻣﺘﻬﺎﻧﻚ،
ﻭﻻ ﺗﻌﻆ ﻣﻔﺘﻮﻧﺎً ﺑﺮﺃﻳﻪ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﺰﺭﻱ ﺑﺮﺃﻳﻚ،
ﻭﻻ ﺗﺘﺤﺪﺙ ﺇﻟﻰ ﻣﺘﺨﺎﺻﻤﻴﻦ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﺨﻄﻬﻤﺎ ﻓﺘﺴﻤﻊ
ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﻳﺠﻌﻠﻚ ﺛﺎﻟﺜﻬﻤﺎ،
ﻭﻻ ﺗﺬﻛﺮ ﺯﻭﺟﺘﻚ ﻭﻫﻲ ﻣﻐﻀﺒﺔ ﺑﻤﺎ ﻗﺪﻣﺖ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ
ﺧﻴﺮ ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺫﻟﻚ ﻛﻠﻪ،
ﻭﻻ ﺗﺪﻝ ﺑﺄﺑﻮﺗﻚ ﻋﻠﻰ ﻭﻟﺪﻙ ﺍﻟﻌﺎﻕ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ، ﻓﺘﺴﻤﻊ ﻣﻨﻪ
ﻣﺎ ﺗﺘﻤﻨﻰ ﻣﻌﻪ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻜﻮﻥ ﻭﻟﺪﺗﻪ .!
Jangan melakuka sepuluh macam perbuatan, agar tidak mendengar sepuluh kata yang tak menyenangkan.

  1.  Jangan mencampuri urusan yang tidak beguna bagimu. Agar tidak mendengar kata kata yang tidak menyenangkan. 
  2. Jangan bicara disaat kamu marah. Agar tidak mendengar kata2 yang menambah kemarahanmu. 
  3. Jangan memuji orang yang terpedaya nafsu. Agar tidak mendengar kata2 yang bernada menghinamu. 
  4. Jangan mengadu kepada orang yang tidak perhatian padamu. Agar tidak mendengar kata2 yang menambah sakit hatimu. 
  5. Jangan menampakkan kebencian kapada orang bodoh. Agar tidak mendengar kata2 yang menambah kebencianmu. 
  6. Jangan menasehati orang yang menganggap kamu rendah. Agar tidak mendengar kata2 yang bernada merendahkanmu. 
  7. Jangan memberi masukan kepada orang yang cela pendapatnya. Agar kamu tidak mendengar kata2 yang meremehkan pendapatmu. 
  8. Jangan membicarakan dua orang yang sedang berselisih dengan kata2 yang mebuat mereka murka. Agar tidak mendengar kata2 yang menjadikan dirimu pihak ke tiga. 
  9. Jangan menyebutkan kebaikan yang telah kamu lakukan dihadapan istrimu disaat ia marah. Agar kamu tidak mendengar kata2 pengingkaran atas semua kebaikanmu. 
  10. Jangan menunjukkan kebapakan/keibuanmu dihapan anakmu yang durhaka. Agar tidak mendengar kata2 darinya, yang berharap, seandainya dia bukan anakmu.

Selasa, 07 April 2015

SALAM ALLOH SWT KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Dalam al-Qur’an Alloh swt mengisahkan, perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad saw dimana kala itu beliau saw berjumpa dengan Alloh swt.

وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
“Sedang dia (Nabi Muhammad) berada di ufuk yang tinggi
dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi
maka jadilah dia dekat (kepada Alloh swt sejarak), dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi (dan berdialog langsung dengan-Nya).” – (QS.53:7-9).
Nabi Muhammad saw pun melakukan penghormatan bersujud dihadapan-Nya dengan berucap :
أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
“Segala Kehormatan, Keberkahan, Sholawat dan Kebaikan hanya milik Alloh saja.”
Lalu Alloh swt menyambut Nabi Muhammad saw dengan ucapan:
أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Salam-Ku kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Rohmat Alloh dan Berkah-Nya (untukmu).”
Begitu Nabi Muhammad saw mendapat sambutan istimewa sebagai penghormatan tertinggi dari Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, beliau saw pun menjawab :
أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Keselamatan atas kami (orang-orang mukmin) semua dan atas hamba-hamba Alloh yang Sholeh.”
Inilah keutamaan husus kecintaan dan kasih sayang yang dimiliki Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh Para Nabi dan Rosul lain. adalah beliau saw selalu ingat kepada kita ummatnya, yang belum pernah beliau lihat di alam dunia.
Itulah dari sekian banyak rahasia kisah didalam mi’roj yang wajib diyakini oleh setiap muslim diantaranya adalah sambutan Alloh swt terhadap Nabi Muhammad saw kekasih-Nya.
Oleh sebab itu, diantara salah satu hadiah terbesar yang diberikan Alloh swt kepada hamba-Nya yang mukmin adalah sholawat kepada Nabi Muhammad saw sewaktu di dalam sholat. Karena sholawat dalam sholat adalah menyampaikan ucapan salam, rohmat, barokah dan pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw.
أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Segala Kehormatan, Keberkahan, Sholawat dan Kebaikan hanya milik Alloh saja.
Salam kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Rohmat Alloh dan Berkah-Nya (untukmu).
Keselamatan atas kami (orang-orang mukmin) semua dan atas hamba-hamba Alloh yang Sholeh.
Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh.
Ya Alloh, curahkanlah sholawat, keselamatan dan keberkahan, kepada Sayyidina Muhammad dan kepada keluarga Sayyidina Muhammad, sebagaimana Engkau telah mencurahkan sholawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina Ibrohim dan keluarga Sayyidina Ibrohim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Sholawat kepada Nabi Muhammad merupakan hakekat sekaligus mengandung syari’at.
Pertama, disebut hakekat karena Alloh swt sendiri, dan para malaikatnya bersholawat kepada Nabi Muhammad. Dalam Firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
“Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat-Nya senantiasa bersholawat kepada Nabi.”
Kedua, mengandung syari’at karena Alloh swt memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan untuknya.”
RATAPAN MAHABBAH
Allohu Robbi .. kekasih-Mu bersabda:
– « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
“Sesungguhnya kamu bersama yang kamu cintai.”
فَإِنَّا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ رَسُولَكَ مُحَمَّد
Maka kami mencintai-Mu dan kami mencintai Rosul-Mu Muhammad
وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ وَعَلِى فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
Serta Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali, berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.”
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ وَأَذِقْنَا بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ لَذَّةَ وِصَالِهِ
“Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad semuanya.
Dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.
Dan anugerahilah kami kelezatan bertemu dengan beliau dengan keberkahan bersholawat kepadanya.
اَللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ مَعَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
Ya Alloh, aku mohon ridho sesudah keputusan-Mu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan berjumpa dengan-Mu bersama Rosul-Mu Muhammad.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Tuhan kami .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta Rohamatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang khusus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..”

ANTARA UJIAN COBAAN DAN ADZAB

Ketika COBAAN/PERINGATAN yang menjemput Anda maka segeralah intropeksi .. apa yang telah atau sedang Anda kerjakan .. kemudian pikirkanlah apa yang harus Anda lakukan ...
Sedangkan tatkala yang hadir itu sebuah UJIAN maka sesungguhnya UJIAN itu hadir sebagai ANUGRAH .. sebab berbagai ujian itulah yang melahirkan potensi dan kualitas Anda yang sejati di kemudian hari ..
Setelah Anda sukses berintrospeksi, maka lanjutkan dengan segera pada langkah AKSI SOLUSI yang luar biasa .. Ketahuilah, bahwa Solusi dari masalah Anda seringkali tidak berada pada masalah-masalah yang Anda miliki .. Tetapi Solusi Anda berada pada KEHENDAK ALLOH .. dimana ALLOH memiliki kehendak bahwa DIA akan membantu Anda jika Anda mau membantu hamba-hamba Alloh lainnya ..
Itu sebabnya, mulai hari ini JANGAN LAGI MENYELESAIKAN MASALAH Anda dengan cara yang biasa .. Tidak perlu habiskan energi untuk terlalu fokus mencari solusi dari permasalahan Anda. Sebab hakekatnya Anda secara pribadi tak memiliki kemampuan apapun untuk menyelesaikan masalah-masalah Anda .. Hanya ALLOH yang mampu ..
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH ….
Ya .. Kadang kita masih bingung apakah Kesulitan yang hadir ini berupa UJIAN/ANUGERAH ataukah COBAAN/PERINGATAN ..
Namun, Jika Anda sudah terbiasa membersihkan diri .. maka hati kecil Anda akan menginformasikan kepada Anda .. apakah masalah/kesulitan tersebut sebuah UJIAN / COBAAN ataukah justru sebuah ADZAB/PEMBALASAN .. dari sebab-sebab kemaksiatan yang Anda lakukan .. Jika ADZAB yang menimpa segeralah Anda bertaubat dan istighfar ..
Namun secara prinsip .. ternyata apabila Anda mendapatkan kesulitan setelah sebelumnya Anda berlaku maksiat, maka kesulitan itu biasanya sebuah BALASAN/ADZAB .. dan ketika Anda mendapatkan kesulitan karena sedang meraih atau mengejar sebuah keinginan/impian/do’a, dan Anda pun tidak sedang berlaku maksiat .. maka insya Alloh kesulitan itu hadir sebagai UJIAN/ANUGERAH atau COBAAN/PERINGATAN/TANDA-TANDA ..
Semakin besar keinginan Anda, maka semakin kuat ujiannya .. Tapi tak jarang pula kesulitan hadir sebagai perpaduan antara UJIAN dan PERINGATAN, perpaduan antara COBAAN dan ANUGRAH .. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan ketika Anda sedang mengejar sebuah impian ..
Namun jika Anda dalam mengejar impian itu, tetap melakukan perbuatan maksiat, apalagi Anda terlalu ambisius sehingga nyaris lupa bersyukur, nyaris lupa meni’mati kehidupan Anda “saat ini” .. dan sibuk membayangkan keni’matan “masa depan” Anda yang belum pasti .. maka bisa jadi yang menyapa anda adalah ADZAB/BALASAN ..
Tapi di balik itu semua, yakinlah bahwa setiap kesulitan yang diikhlaskan dan di-istighfarkan dengan disertai pertaubatan, insya Alloh akan melahirkan kemudahan-kemudahan yang penuh dengan keberkahan ..
Sebetulnya, MASALAH itu dihadirkan sebagai UJIAN agar kita dapat menyelesaikan untuk dapat setingkat lebih tinggi dan seterusnya hingga pada puncaknya kita mendapatkan penghargaan yang memuaskan ..
Sedangkan COBAAN itu didatangkan sebagai PERINGATAN agar kita lebih bisa bersabar untuk lebih kuat dan kokoh dalam menghadapi kehidupan ..
Atau dihadirkan sebagai ADZAB agar kita kembali (taubat) dan istighfar (minta ampun) .. dan menjadi orang yang pandai bersyukur .. dengan begitu kita bisa dekat kembali dengan-NYA ..
Ketika masalah itu hadir maka ada pola standar yang harus Anda lakukan .. BUKAN MASALAHNYA YANG MENJADI MASALAH .. tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir ..
Sebab, ternyata dengan washilah berbagai masalah itulah yang membuat Anda tetap berTAHAN dan berTUHAN ..
Itu sebabnya, Jangan  besar-besarkan masalah Anda, sehingga Anda lupa membesarkan Alloh, yang memberikan solusi dari masalah Anda ..
Jadi, jangan Katakan:
“Wahai Alloh, masalahku sangat besar ..”
tapi katakanlah:
“Wahai  masalah, Alloh itu Maha Besar ..”
Patut diperhatikan bahwa masalah itu adalah sebuah kepastian, tetapi sikap Anda dalam menghadapi masalah itu adalah sebuah pilihan ..
Dalam Surat ALAM NASYROH kita disuruh MENYELESAIKAN urusan kita dengan bersungguh-sungguh ..
Nah .. tahukah Anda, Apakah URUSAN KITA itu ..?
Urusan kita bukanlah permasalahan pribadi kita .. tapi urusan kita adalah membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar kita ..
Artinya Jika ENGKAU ingin permasalahanmu beres, maka bantulah bereskan atau selesaikan permasalahan orang-orang di sekitarmu .. Perhatikan hadist dari Abdulloh bin Umar ra ini ..
Rosululloh saw bersabda :
“Seorang muslim dan lainnya adalah bersaudara, karenanya janganlah menganiaya saudaranya sendiri dan jangan membiarkannya tersiksa ..
Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, maka Alloh akan memenuhi hajatnya ..
Dan siapa saja yang memudahkan kesulitan orang lain, niscaya Alloh akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat ..
Dan barang siapa yang menutup aib orang lain, niscaya Alloh menutupi aibnya di hari kiyamat.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Jadi bantulah sesama .. maka Alloh swt akan membantu kita .. coba kita bayangkan, seandainya MANUSIA di seluruh dunia ini, hanya fokus kepada masalahnya masing-masing .. maka bagaimana mungkin bisa terjadi sinergi yang baik .. artinya jangan sampai kita gagal berbuat kebaikan disebabkan kita fokus kepada masalah kita ..
Nah, kesimpulannya adalah ketika Anda hari ini sedang memiliki MASALAH, maka sebenarnya Anda sedang diberikan “tanda” oleh Alloh bahwa ada orang-orang di sekitar Anda yang sedang butuh bantuan Anda ..
Pasanglah antene kebajikan itu, dan lakukan searching dengan hati terdalam Anda .. kemudian rasakanlah .. lalu bantulah mereka .. maka perhatikan apa yang terjadi dalam kehidupan Anda ketika Anda berhasil membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka ..
Tak perlu heran jika justru masalah Anda secara AJAIB menjadi selesai tuntas, atas BANTUAN ALLOH SWT

SHOLAWAT MENEMBUS ALAM KUBUR

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Merupakan sebuah kalimat do'a, harapan untuk diberi rohmat dan syafa'at, bahkan sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kita membaca sholawat setiap waktu dalam sholat.

Hal yang tidak di ingkari setiap mukmin adalah para malaikat menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw, setiap bacaan sholawat dari ummat beliau saw.

Kalo Alloh swt mengutus para malaikat-Nya menembus alam ghaib untuk mengabarkan kepada Nabi Muhammad saw tentang sholawat yang kita baca, lalu bagaimana dengan sholawat yang telah sampai kepada beliau saw untuk ummatnya yang di alam kubur ..?

Diceritakan bahwa pada suatu hari ada seorang wanita datang kepada Hasan al-Basri, lalu wanita itu berkata:
“Sesungguhnya aku punya puteri yang telah mati beberapa waktu yang lalu dan aku ingin sekali bermimpi bertemu dengannya, maka ajarkanlah kepadaku amalan yang bisa membuatku memimpikannya.”
Hasan al-Basri pun mengajarkan sebuah sholawat kepada wanita itu.

Pada malam harinya wanita itu bermimpi bertemu dengan puterinya, namun yang ia lihat puterinya berpakaian cairan kotor, lehernya dibelenggu dan kakinya diikat dengan tali yang terbuat dari api.
Ketika terbangun dari tidurnya ia segera menemui Hasan al-Basri dengan cucuran air mata. Lalu ia menceritakan semua yang terjadi dalam mimpinya. Mendengar cerita wanita itu, Hasan al-Basri dan orang-orang yang juga mendengarnya ikut menangis.

Beberapa waktu kemudian Hasan al-Basri bermimpi bertemu dengan seorang gadis di sorga duduk diatas tahta dengan mahkota diatas kepalanya, cahayanya menyinari dari timur sampai ke barat. Lalu gadis itu berkata kepada Hasan al-Basri:
“Apakah engkau tau siapa aku .?”
Hasan al-Basri menjawab: “Tidak .!”
Gadis itu berkata:
“Aku adalah puteri dari perempuan yang telah engkau ajari sholawat.”
Hasan al-Basri bertanya:
“Sebab apa engkau memperoleh kedudukan ini .?”
Gadis itu menjawab:
“Suatu hari ada sorang lelaki lewat di tanah pekuburan kami, lalu ia membaca sholawat satu kali dan pahalanya diberikan kepada kami
dan ditanah pekuburan kami ada lima ratus lima puluh manusia yang disiksa. Kemudian, ada suara yang memanggil:
“Bebaskanlah mereka dari siksaan berkat sholawatnya lelaki ini kepada Nabi Muhammad.”

Wallohu a'lam bisshowab

KEUTAMAAN DO'A HARI JUM'AT

Pada hari Jum’at ini terdapat saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir-akhir siangnya setelah Ashar. Berdasarkan riwayat dari Abu Huroiroh ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيْفَةٌ
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat, yaitu seorang muslim tidaklah ia berdiri sholat dan meminta kebaikan kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya.”

Lalu Beliau menjelaskan:
”Dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat.” (HR. Muslim).
Riwayat dari Jabir ra, Nabi Muhammad saw bersabda:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
"(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada saat-saat ini meminta sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya. Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar." (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim).
Do' Hari Jum'at :
أَللَّهمَّ إِني أَسألُكَ بِأَني أَشْهَدُ أَنَّكَ أنْتَ اللَّهُ ، لا إِلهَ إِلا أَنتَ ، أَلأحَدُ الصَّمَدُ ، أَلَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .
“Ya Alloh .. sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan bersaksi sesungguh-sunggunya bahwa Engkau adalah Alloh Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal dan Yang menjadi tempatku bergantung, Yang tak beranak dan tidak diperanakkan serta tak ada yang menyamai-Mu seorang pun, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ وَأَذِقْنَا بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ لَذَّةَ وِصَالِهِ
اَللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ مَعَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
“Segala Kehormatan, Keberkahan, Sholawat dan Kebaikan hanya milik Alloh saja.
Salam-Ku kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Rohmat Alloh dan Berkah-Nya (untukmu).
Keselamatan atas kami (orang-orang mukmin) semua dan atas hamba-hamba Alloh yang Sholeh.
Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad semuanya.
Dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.
Dan anugerahilah kami kelezatan bertemu dengan beliau dengan keberkahan bersholawat kepadanya.
Ya Alloh, aku mohon ridho sesudah keputusan-Mu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan berjumpa dengan-Mu bersama Rosul-Mu Muhammad

Sabtu, 04 April 2015

ANTARA BISIKAN WANITA DAN BISIKAN SETAN

Antara hati kita dengan godaan setan itu, serupa rumah dengan banjir. Rasa aman yang kita rasakan di dalam rumah, senyaman apa pun itu, tetap saja tak luput dari terpaan air. Air tetap akan merangsek mencari celah sekecil apapun guna masuk ke dalam rumah dan menenggelamkan diri kita. Ia datang dari depan, belakang, kanan, maupun sisi kiri kita, kecuali dari arah atas.
Al-Qur'an mengabadikan perkataan iblis setelah diusir oleh Alloh swt dari sorga, iblis berkata:
فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Karena Engkau telah menghukum tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.
Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.
Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’rof: 16-17).
Mungkin ada di antara kita yang kuat ibadahnya, tapi saat diuji dengan godaan harta, ia lemah.
Ada pula yang kuat terhadap goda harta, tapi rapuh dengan tahta.
Ada pula yang tidak tergiur dengan harta dan tahta, tapi rupanya takluk kepada wanita.
Dan di antara godaan "har_ta_wan" (harta, tahta, wanita) itu, godaan wanitalah yang paling dahsyat dalam melunturkan ‘pertapaan’ seorang lakilaki.
Dari Usamah bin Zaid ra, Rosululloh saw bersabda:
“Aku tidak meninggalkan sesuatu fitnah setelahku yang lebih besar bahayanya bagi kaum lelaki daripada perempuan.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Coba kita bandingkan, mana yang lebih dahsyat antara bisikan setan atau bisikan wanita.
Bisikan setan, sekeras apapun, tetap saja ia tak nampak. Alloh swt berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya (bisikan) tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76).
Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa akan tetapi ia sangat lemah.
Tapi bisikan wanita, ia tidak hanya mengganggu dimensi audio indrawi lelaki, tetapi juga tervisualisasi dengan baik melalui pancaran cahaya yang masuk melalui retina mata. Alloh swt berfirman:
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya (bisikan) tipu daya kalian wahai para wanita begitu besar.” (QS. Yusuf: 28)
Maka hasilnya adalah penjelasan bahwa tipu daya (bisikan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (bisikan) setan.
Dari Jabir ra, Rosululloh saw telah mengingatkan:
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ
“Sesungguhnya wanita (yang mengikuti bisikan setan) itu datang dalam rupa setan dan pergi dalam rupa setan, maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” (HR. Muslim).
Ulama berkata, ma'na hadits ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan bahaya ajakan kepada fitnah wanita, karena Alloh swt telah menjadikan dalam hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita dan merasa ni'mat ketika memandang mereka dan apa yang berkaitan dengan mereka, maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan dengan bisikannya dan tipuannya.
Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadits ini bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak), dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan dari melihat kepada pakaiannya dan berpaling darinya secara mutlak.
Maka sungguh dahsyat bisikan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam, namun ternyata tipu dayanya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita.
Artinya, wanita adalah alat yang banyak dimanfaatkan oleh setan untuk menjadi kaki tangannya, entah para wanita sadar atau tidak.
Dari Abdulloh bin Mas’ud ra, Rosululloh saw bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا
“Wanita adalah aurot, dan apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan menghiasinya, dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Alloh ketika ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi dan Thobroni).
Al-Mubarokfuri rh berkata:
أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا
“Maksudnya adalah setan menghiasi wanita di mata laki-laki, dan setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkan dirinya dan menyesatkan laki-laki dengan hiasan dirinya.