Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhoan Alloh swt ..
Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Alloh swt, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ..
Tanpa bimbingan dari Alloh swt, niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya ..
Adalah Rosululloh saw berlindung kepada Alloh swt dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti ..
Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam do’a beliau saw :
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
1. ilmu yang tidak bermanfaat
2. hati yang tidak khusyu’
3. Jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan
4. Dari do’a yang tidak dikabulkan.”
(HR . Muslim dari Zaid bin Arqom ra).
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya.
Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Robbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Nabi Muhammad saw bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Alloh swt, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud).
2. Hati yang Tidak Khusyu’
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Alloh swt. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya, sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Alloh swt darinya.
Alloh swt berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alloh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22).
Kekhusyu’an hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Alloh swt dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyu’ hatinya karena mengetahui bahwa Alloh swt dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Alloh swt melihatnya dalam penentangan terhadap aturan-Nya.
Ada juga yang khusyu’ karena memandang dahsyatnya hukuman Alloh swt kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyu’ karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Alloh swt dan besarnya anugerah dari-Nya yang tidak bisa dihitung.
Alloh swt telah memuji orang-orang yang khusyu’ dan mempersiapkan sorga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyu’, Alloh swt menyatakan:
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Seorang yang khusyu’ saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Kholiq. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyu’ dalam sholat menjadi ruh sholat tersebut, dan sholat seorang hamba dinilai dengannya.
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah-ruah dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup.
Rosululloh saw telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih).
Sikap menerima pemberian Alloh swt dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Muhammad saw :
فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rizki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Alloh.” (HR . Muslim dari Abdulloh bin ‘Amr ra).
4. Do’a yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Alloh swt
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Alloh swt. Bagaimana tidak merugi, padahal Alloh swt telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Alloh swt berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir: 60).
Tidak dikabulkannya do’a, bukan berarti Alloh swt ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya do’a.
Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Alloh swt, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ..
Tanpa bimbingan dari Alloh swt, niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya ..
Adalah Rosululloh saw berlindung kepada Alloh swt dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti ..
Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam do’a beliau saw :
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
1. ilmu yang tidak bermanfaat
2. hati yang tidak khusyu’
3. Jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan
4. Dari do’a yang tidak dikabulkan.”
(HR . Muslim dari Zaid bin Arqom ra).
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya.
Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Robbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Nabi Muhammad saw bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Alloh swt, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud).
2. Hati yang Tidak Khusyu’
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Alloh swt. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya, sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Alloh swt darinya.
Alloh swt berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alloh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22).
Kekhusyu’an hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Alloh swt dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyu’ hatinya karena mengetahui bahwa Alloh swt dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Alloh swt melihatnya dalam penentangan terhadap aturan-Nya.
Ada juga yang khusyu’ karena memandang dahsyatnya hukuman Alloh swt kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyu’ karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Alloh swt dan besarnya anugerah dari-Nya yang tidak bisa dihitung.
Alloh swt telah memuji orang-orang yang khusyu’ dan mempersiapkan sorga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyu’, Alloh swt menyatakan:
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Seorang yang khusyu’ saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Kholiq. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyu’ dalam sholat menjadi ruh sholat tersebut, dan sholat seorang hamba dinilai dengannya.
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah-ruah dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup.
Rosululloh saw telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih).
Sikap menerima pemberian Alloh swt dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Muhammad saw :
فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rizki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Alloh.” (HR . Muslim dari Abdulloh bin ‘Amr ra).
4. Do’a yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Alloh swt
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Alloh swt. Bagaimana tidak merugi, padahal Alloh swt telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Alloh swt berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir: 60).
Tidak dikabulkannya do’a, bukan berarti Alloh swt ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya do’a.









