
Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).
Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.
Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.
Alloh swt berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).
Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.
Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”
Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)
BERSAMA ORANG YANG DICINTAI
Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.
“Tali keimanan yang paling kokoh adalah; berloyal karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).
Dalam sabda beliau saw yang lain:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ
“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).
Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).
Ibnu Abbas rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”
Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.
Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:
وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).
Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas melanjutkan:
“Sungguh kau mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)